Kebijakan pelarangan penggunaan HP di sekolah-sekolah di Belanda mulai diterapkan sejak dua tahun lalu untuk mengurangi distraksi dan meningkatkan konsentrasi siswa. Aturan ini membuat HP, smartwatch, hingga tablet tak lagi diperbolehkan digunakan di kelas, koridor, maupun kantin sekolah.
Mengutip laporan media BBC, kebijakan itu diterapkan melalui kesepakatan nasional antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan guru, tanpa melalui undang-undang. Pendekatan ini dipilih agar aturan bisa diterapkan lebih cepat dan mendapat dukungan luas dari berbagai pihak.
Di Cygnus Gymnasium Amsterdam, misalnya, aturan tersebut diterapkan secara tegas. Sebuah papan berwarna kuning di area sekolah mengingatkan siswa untuk menyimpan ponsel di loker sebelum masuk.
Bahkan, di gerbang terpampang slogan “Telefoon thuis of in de kluis” yang berarti “ponsel di rumah atau di dalam loker” sebagai pengingat sejak memasuki sekolah.
Hena dan Fena, dua siswi di Cygnus Gymnasium Amsterdam, menuturkan pandangan mereka soal larangan HP di sekolah. Meski awalnya merasa terganggu karena harus berhati-hati agar tidak ditegur guru, mereka mengakui suasana saat jam istirahat kini terasa lebih tenang.
“Sejak larangan diberlakukan, kami harus memperhatikan guru agar HP tidak diambil,” tutur Hena dan Fena, dikutip BBC.
“Memang agak menyebalkan, tapi bukan berarti hak kami dilanggar. Mungkin sekarang kami lebih fokus dan hadir sepenuhnya saat jam istirahat. Mungkin sekarang kami lebih menikmati momen karena tidak ada lagi orang yang benar-benar terpaku pada ponsel mereka,” katanya.
Guru Ida Peters, menilai larangan HP membawa perubahan signifikan di kelas. Menurutnya, menarik perhatian siswa kini menjadi lebih mudah karena ponsel tidak lagi sering terlihat.
“Sebagai guru, selalu menantang untuk membuat siswa fokus. Sekarang HP lebih jarang muncul di kelas, dan itu sangat membantu konsentrasi mereka,” ujarnya.
Dilansir BBC, sebuah studi pemerintah terhadap 317 sekolah menengah di Belanda menemukan hasil yang signifikan sejak kebijakan ini diterapkan. Sekitar tiga perempat sekolah melaporkan adanya peningkatan konsentrasi siswa di dalam kelas, sementara hampir dua pertiga sekolah menyebut iklim sosial di lingkungan pendidikan menjadi jauh lebih baik.
Survei lain menunjukkan berkurangnya perundungan ketika gadget dilarang digunakan selama jam sekolah.
Sementara Felix dan Karel, dua siswa berusia 15 tahun, menuturkan mereka terbiasa menghabiskan waktu dua hingga lima jam setiap harinya untuk berselancar di media sosial.
Salah satu dari mereka bahkan mengaku sempat merasa sangat keberatan saat pertama kali mendengar aturan baru tersebut diberlakukan.
“Ketika pertama kali mendengar beritanya, aku berpikir ingin pindah sekolah saja karena ini bukan tujuan utamaku datang ke sini,” aku salah satu dari mereka.
Namun, setelah menjalani kebijakan tersebut, mereka justru menilai larangan ponsel membawa dampak positif yang nyata dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Belanda Kaji Pembatasan Medsos untuk Remaja
Di luar kebijakan di sekolah, pemerintah Belanda kini mulai mengkaji langkah lanjutan, yakni pembatasan penggunaan media sosial bagi remaja. Usulan yang mengemuka adalah menetapkan usia minimal 15 tahun untuk mengakses platform seperti Instagram, TikTok, dan Snapchat di kawasan Uni Eropa.
Survei yang dilakukan UNICEF terhadap lebih dari 1.000 anak dan remaja di Belanda menunjukkan bahwa 69 persen responden justru mendukung pembatasan tersebut. Bahkan, 28 persen di antaranya menilai media sosial sebaiknya dilarang sepenuhnya bagi anak di bawah usia 12 tahun.
Alasannya beragam, mulai dari kekhawatiran soal kecanduan, risiko keamanan, hingga dampaknya terhadap kesehatan mental. Banyak responden menilai anak-anak seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu bermain di luar dibandingkan terpaku pada layar.
Temuan ini diperkuat oleh survei tahunan lembaga riset Newcom, yang mencatat peningkatan dukungan pembatasan usia dari 44 persen menjadi 60 persen dalam setahun terakhir. Data ini sekaligus mematahkan anggapan generasi muda selalu ingin terhubung secara daring.
Karel mengatakan dia akan “sedikit hancur” jika larangan media sosial diberlakukan. “Aku agak kecanduan, aku langsung membuka TikTok begitu bangun tidur atau mengecek pesan dari teman-teman,” katanya.
Pemerintah Belanda kini secara resmi menyarankan agar anak-anak di bawah usia 15 tahun menjauh dari media sosial, bahkan mendorong aturan batas usia minimal 15 tahun yang berlaku di seluruh Uni Eropa.
Kebijakan ini muncul seiring argumen bahwa jika negara bisa membatasi konsumsi alkohol atau judi, maka tindakan serupa harus dilakukan terhadap platform yang dirancang untuk menimbulkan adiksi.
Kebijakan tersebut dirancang untuk merespons kekhawatiran terhadap kesehatan mental pelajar, di mana data menunjukkan penggunaan media sosial yang berlebihan membuat anak-anak lebih mudah terdistraksi dan cemas. Selain itu, langkah ini diambil untuk mendorong kembali interaksi sosial yang sehat dan meminimalkan dampak buruk platform digital terhadap tumbuh kembang remaja.
Sumber: detik.com


