Wednesday, June 10, 2026
HomeNasionalHarga Telur Anjlok, Kementan Minta BGN Serap Produksi Peternak untuk Program MBG

Harga Telur Anjlok, Kementan Minta BGN Serap Produksi Peternak untuk Program MBG

spot_img

Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat merespons anjloknya harga telur ayam ras di tingkat peternak dengan meminta Badan Gizi Nasional (BGN) meningkatkan penyerapan telur lokal melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Agung Suganda, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirimkan surat resmi kepada Kepala BGN pada 8 Mei 2026, saat harga telur di tingkat kandang mengalami penurunan tajam.

Dalam surat tersebut, Kementan mengusulkan agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah memprioritaskan penggunaan telur hasil produksi peternak lokal sebagai salah satu menu program MBG.

“Kementan mengusulkan peningkatan penggunaan telur dalam menu MBG,” ujar Agung dalam keterangannya, Minggu (7/6/2026).

Kementan juga meminta agar pembelian telur dilakukan sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP) produsen yang ditetapkan sebesar Rp26.500 per kilogram. Usulan tersebut kemudian ditindaklanjuti BGN melalui penerbitan Surat Edaran Nomor SE/01/06/V/2026 yang menginstruksikan SPPG menyerap telur peternak lokal sesuai HAP.

Persoalan merosotnya harga telur turut menjadi perhatian dalam Rapat Koordinasi Terbatas yang digelar di Kementerian Perdagangan pada Kamis (4/6/2026). Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menyatakan pemerintah telah meminta BGN untuk menyerap telur dari daerah-daerah sentra produksi yang tengah mengalami tekanan harga.

Selain itu, pemerintah juga membuka peluang penggunaan telur ayam ras dan daging ayam sebagai komponen bantuan pangan apabila harga kedua komoditas tersebut mengalami penurunan drastis.

“Terutama di Jawa Timur, seperti Blitar, harga telur sempat turun cukup dalam,” kata Budi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, menjelaskan bahwa anjloknya harga telur dipicu oleh meningkatnya produksi di sejumlah sentra peternakan ayam petelur yang tidak diimbangi dengan penyerapan pasar. Kondisi tersebut diperparah oleh menurunnya aktivitas perdagangan selama libur panjang Mei 2026.

BACA JUGA:   “Jangan Ada Matahari Kembar, Satu Matahari Saja Sudah Berat”

Akibatnya, pasokan telur melimpah dan harga di tingkat peternak tertekan. Namun, menurut Suwandi, kondisi mulai membaik seiring normalnya aktivitas pasar dan distribusi barang.

Sebelumnya, ratusan peternak ayam petelur di Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek menggelar aksi dengan membagikan sekitar satu juta butir telur secara gratis kepada masyarakat. Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas harga telur yang jatuh hingga berada di bawah harga pokok produksi (HPP).

Para peternak mengaku beban usaha semakin berat akibat kenaikan harga pakan, terutama bahan baku impor yang menyumbang sekitar 35 persen komposisi pakan konsentrat. Bahkan, beberapa komponen impor dilaporkan mengalami kenaikan harga hingga 100 persen.

Melalui peningkatan penyerapan telur oleh program MBG dan bantuan pangan pemerintah, diharapkan harga telur di tingkat peternak dapat kembali stabil sehingga keberlangsungan usaha peternakan rakyat tetap terjaga.

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER