Thursday, November 5, 2026
HomeInternasionalIlmuwan Kembangkan Lima Cara Bersihkan Sampah Antariksa

Ilmuwan Kembangkan Lima Cara Bersihkan Sampah Antariksa

spot_img

Sampah antariksa menjadi ancaman bagi aktivitas manusia di luar angkasa. Ribuan benda buatan manusia, mulai dari satelit yang sudah tidak berfungsi hingga serpihan roket, terus mengorbit Bumi dengan kecepatan tinggi. Kondisi ini meningkatkan risiko tabrakan yang dapat menghasilkan lebih banyak puing di ruang angkasa.

Sebagian besar sampah antariksa berada di kawasan Low Earth Orbit (LEO) atau orbit rendah Bumi. Benda-benda tersebut terdiri dari serpihan wahana antariksa, pecahan cat, bagian roket, satelit yang tidak lagi beroperasi, hingga sisa ledakan objek di orbit.

Mengutip Science Focus, Minggu (1/11), para ilmuwan kini mengembangkan sejumlah teknologi untuk mengatasi persoalan tersebut. Sedikitnya ada lima konsep yang tengah dikembangkan, mulai dari satelit dengan permukaan lengket hingga penggunaan laser dan tali elektrodinamis.

NASA memperkirakan terdapat sekitar 6.000 ton sampah antariksa di kawasan orbit rendah Bumi. Jumlah tersebut berpotensi meningkatkan risiko tabrakan antarobjek yang dapat memicu terbentuknya serpihan baru dan memperparah kepadatan sampah antariksa.

Lima Teknologi Pembersih Sampah Antariksa

1. Satelit dengan Permukaan Lengket

Tim peneliti di Jerman mengembangkan teknologi yang terinspirasi dari kemampuan kaki tokek menempel pada permukaan dinding.

Kemampuan tersebut terjadi karena gaya van der Waals, yakni interaksi antarmolekul yang memungkinkan kaki tokek melekat pada berbagai permukaan.

Teknologi ini akan diterapkan pada satelit yang dilapisi material sintetis menyerupai struktur kaki tokek. Dengan permukaan tersebut, serpihan sampah antariksa diharapkan dapat menempel dan dikumpulkan oleh satelit pembersih.

2. Tentakel Robotik

Teknologi berikutnya menggunakan lengan atau tentakel robotik untuk menangkap sampah antariksa. Sistem ini dirancang agar mampu mencengkeram objek yang sudah tidak berfungsi dan menariknya keluar dari orbit.

Badan Antariksa Eropa atau European Space Agency (ESA) tengah mengembangkan wahana seberat sekitar 500 kilogram yang dilengkapi empat lengan robotik menyerupai tentakel.

BACA JUGA:   Buang-buang Makanan Ternyata Bikin Bumi Makin Panas, Ini Alasannya

Wahana tersebut direncanakan menjalankan misi menangkap satelit PROBA-1 yang sudah tidak berfungsi. Peluncurannya dijadwalkan pada 2029.

3. Harpun Antariksa

Metode lain yang diusulkan adalah menggunakan harpun atau tombak khusus yang ditembakkan untuk menangkap sampah antariksa.

Alat ini dirancang dapat melesat dengan kecepatan sekitar 20 meter per detik dan dilengkapi ujung berduri agar mampu menancap pada objek sasaran.

Dalam salah satu pengujian, sistem harpun berhasil ditancapkan pada target uji di orbit. Teknologi ini diharapkan menjadi alternatif untuk menangkap benda-benda yang sulit dijangkau menggunakan lengan robotik.

4. Meriam Laser

Berbeda dengan teknologi penangkapan, metode laser dirancang untuk membantu mengeluarkan sampah antariksa dari orbit.

Pada 2015, sejumlah peneliti di Jepang mengusulkan pemasangan laser berkekuatan 500 ribu watt pada sebuah satelit yang bertugas berpatroli di orbit rendah Bumi.

Laser tersebut diarahkan untuk memberikan dorongan pada sampah antariksa sehingga lintasan orbitnya berubah dan objek dapat memasuki kembali atmosfer Bumi.

Ketika memasuki atmosfer, objek akan mengalami pemanasan akibat gesekan dengan udara dan diharapkan terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi.

5. Tali Elektrodinamis

Teknologi kelima dikembangkan untuk mengantisipasi sampah antariksa sejak satelit masih dirancang.

Badan Antariksa Jepang mengembangkan sistem tali elektrodinamis yang dapat dipasang pada satelit baru sebelum diluncurkan.

Kabel konduktif sepanjang sekitar 700 meter tersebut akan diulurkan ketika satelit mencapai akhir masa operasinya. Saat berinteraksi dengan medan magnet Bumi, kabel menghasilkan gaya yang memperlambat pergerakan satelit sehingga orbitnya semakin rendah.

Dengan demikian, satelit dapat diarahkan memasuki kembali atmosfer dan terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi.

Berbagai teknologi tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah antariksa membutuhkan solusi jangka panjang. Selain mengembangkan sistem pembersihan, upaya pencegahan melalui perancangan satelit yang lebih aman dan pengelolaan akhir masa operasional wahana juga menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan aktivitas manusia di ruang angkasa.

BACA JUGA:   Pernikahan Manusia Rp 3.500 T Ganggu Ketentraman Kota Venesia?

 

Sumber: detik.com

BERITA TERKAIT
spot_img

BERITA POPULER