Gelombang panas ekstrem yang melanda Jerman sepanjang 2026 diperkirakan telah menyebabkan hampir 10 ribu kematian. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dalam satu tahun sejak 2016.
Berdasarkan estimasi Robert Koch Institute (RKI), sekitar 9.800 orang meninggal akibat suhu tinggi selama periode awal April hingga 19 Juli 2026. Angka itu melampaui rekor sebelumnya pada 2018 yang mencatat sekitar 9.000 kematian terkait cuaca panas.
Lebih dari 5.000 kematian diperkirakan terjadi saat gelombang panas hebat pada paruh kedua Juni, ketika suhu di sejumlah wilayah Jerman mendekati 42 derajat Celsius.
Layanan pemantauan iklim Copernicus milik Uni Eropa menyebut Juni 2026 sebagai bulan Juni terpanas yang pernah tercatat di Eropa Barat.
Kantor Statistik Federal Jerman juga melaporkan jumlah kematian pada pekan 22–28 Juni meningkat 32 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. RKI memperkirakan sedikitnya 5.100 kematian pada pekan tersebut berkaitan dengan suhu panas yang ekstrem.
RKI menjelaskan, kematian akibat panas umumnya tidak tercatat secara langsung sebagai penyebab kematian. Dalam banyak kasus, suhu tinggi memperburuk penyakit yang telah diderita sebelumnya, seperti gangguan kardiovaskular, pernapasan, maupun ginjal, sehingga panas disebut sebagai “pembunuh senyap”.
Untuk menghitung dampaknya, RKI membandingkan jumlah kematian yang terjadi selama periode cuaca panas dengan angka kematian yang diperkirakan normal pada musim yang sama.
Hingga 12 Juli 2026, RKI memperkirakan terdapat sekitar 7.900 kematian terkait panas. Angka tersebut bertambah sekitar 1.900 kasus selama periode 13–19 Juli.
Lembaga itu menegaskan jumlah korban masih berpotensi meningkat karena perhitungan saat ini belum mencakup gelombang panas setelah 19 Juli dan akan diperbarui seiring masuknya data kematian terbaru.
Kelompok lanjut usia menjadi yang paling terdampak. Dari total estimasi korban meninggal, sekitar 7.900 orang berusia 75 tahun ke atas, terdiri atas 5.420 orang berusia 85 tahun atau lebih dan 2.460 orang berusia 75–84 tahun.
Selain itu, sekitar 1.260 korban berusia 65–74 tahun, sedangkan sekitar 630 korban berusia di bawah 65 tahun.
Menurut RKI, angka kematian cenderung meningkat tajam ketika suhu rata-rata mingguan melampaui 20 derajat Celsius. Analisis tersebut didasarkan pada data dari 52 stasiun cuaca yang dioperasikan Badan Meteorologi Jerman.
Para ilmuwan menilai perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat gelombang panas menjadi lebih sering terjadi, berlangsung lebih lama, dan memiliki intensitas yang lebih tinggi. Kondisi itu meningkatkan risiko penyakit hingga kematian akibat paparan suhu ekstrem.
Sumber: detik.com


