Media sosial memudahkan orang menemukan destinasi wisata impian. Namun, kebiasaan melihat foto, video, dan ulasan sebelum berangkat ternyata bisa mengurangi sensasi kejutan saat tiba di tempat tujuan.
Banyak wisatawan kini merasa sudah mengenal sebuah destinasi, bahkan sebelum menginjakkan kaki di sana. Pemandangan ikonik, sudut foto terbaik, hingga tempat makan populer sudah lebih dulu mereka lihat melalui layar ponsel.
Dilansir dari Euronews, Senin (26/10/2026), survei Hint App mengungkapkan bahwa 68 persen wisatawan merasa destinasi yang belum pernah mereka kunjungi sudah terasa familier karena terlalu banyak mengonsumsi konten daring tentang tempat tersebut.
Tak hanya itu, sebanyak 74 persen responden mengaku melakukan riset destinasi secara mendalam sebelum bepergian. Akibatnya, hampir tidak ada kejutan tersisa ketika mereka tiba di lokasi wisata.
Survei yang melibatkan 10.684 orang dewasa di Eropa, Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Amerika Latin itu juga menemukan bahwa 64 persen responden sudah mengenali berbagai landmark dan titik pandang populer berkat pencarian di media sosial.
Terlalu Banyak Tahu, Pengalaman Wisata Jadi Kurang Berkesan
Direktur pelaksana Hint App, Kirill Liakh, mengatakan orang cenderung mengumpulkan informasi untuk mengurangi ketidakpastian sebelum menjalani suatu pengalaman.
Kebiasaan tersebut memang membantu wisatawan merencanakan perjalanan dengan lebih mudah. Namun, ada konsekuensi yang mungkin muncul: pengalaman pertama melihat destinasi secara langsung tidak lagi terasa begitu istimewa.
Ketika hampir setiap sudut tempat wisata sudah pernah dilihat melalui foto atau video, wisatawan berisiko kehilangan sensasi menemukan sesuatu yang benar-benar baru.
Padahal, salah satu daya tarik traveling adalah pengalaman spontan, mulai dari menemukan gang kecil yang menarik hingga mencicipi makanan lokal yang sebelumnya tidak pernah diketahui.
3 Cara Mengembalikan Sensasi Kejutan Saat Traveling
Lantas, bagaimana menikmati perjalanan tanpa terlalu terpaku pada hasil pencarian internet dan media sosial?
Berikut tiga cara yang bisa dicoba.
1. Kembali Menggunakan Buku Panduan Wisata
Di tengah maraknya aplikasi perjalanan dan rekomendasi berbasis kecerdasan buatan (AI), buku panduan wisata konvensional bisa menjadi alternatif.
Wisatawan dapat menggunakannya untuk memperoleh gambaran umum tentang destinasi tanpa harus menelusuri setiap foto, video, dan ulasan yang tersedia di internet.
Dengan begitu, masih ada ruang untuk menemukan pengalaman baru ketika tiba di lokasi.
2. Bertanya kepada Warga Lokal
Jangan hanya mengandalkan rekomendasi dari media sosial. Cobalah berbincang dengan orang-orang yang tinggal atau bekerja di sekitar destinasi wisata.
Wisatawan yang menginap di hotel, misalnya, bisa meminta saran kepada staf mengenai tempat makan, objek wisata, atau lokasi menarik yang belum banyak dikenal.
Pusat informasi wisata juga bisa menjadi pilihan untuk memperoleh rekomendasi dan peta lokal.
Selain menambah wawasan, percakapan semacam ini dapat membuka peluang menemukan tempat yang tidak masuk dalam daftar destinasi populer di internet.
3. Jelajahi Destinasi dengan Berjalan Kaki
Tidak semua perjalanan harus mengikuti jadwal yang padat.
Sesekali, sisihkan waktu untuk berjalan kaki tanpa harus mengejar setiap tempat yang sedang populer. Cara ini memungkinkan wisatawan menemukan hal-hal menarik secara spontan.
Bisa jadi, di tengah perjalanan justru ditemukan kafe kecil dengan suasana nyaman, restoran lokal dengan menu khas, atau museum unik yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam rencana.
Pengalaman seperti inilah yang membuat perjalanan terasa lebih personal dan sulit dilupakan.
Pada akhirnya, media sosial tetap berguna untuk mencari inspirasi dan merencanakan perjalanan. Namun, tidak semua hal perlu diketahui sebelum berangkat.
Menyisakan sedikit ruang untuk rasa penasaran bisa menjadi cara sederhana agar traveling kembali menghadirkan kejutan, bukan sekadar mengunjungi tempat yang sudah berkali-kali dilihat melalui layar ponsel.
Sumber: detik.com


