Ribuan bahkan jutaan orang di dunia memiliki ritual pagi yang sama, yakni minum kopi. Bagi banyak orang, secangkir kopi menjadi cara paling efektif untuk mengusir kantuk dan memulai aktivitas.
Namun, di balik efek kafein yang menyegarkan, kopi ternyata menyimpan pengaruh besar terhadap sistem pencernaan manusia. Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Microbiology mengungkap adanya hubungan signifikan antara konsumsi kopi dengan keberadaan bakteri usus tertentu yang selama ini jarang diketahui.
Bakteri Misterius di Dalam Usus
Penelitian ini menyoroti satu jenis mikroba spesifik bernama Lawsonibacter asaccharolyticus. Bakteri tersebut pertama kali diisolasi pada 2018, namun perannya baru mulai terungkap melalui studi skala besar ini.
Berdasarkan analisis terhadap puluhan ribu sampel tinja, para peneliti menemukan bahwa orang yang rutin meminum kopi cenderung memiliki kadar bakteri tersebut jauh lebih tinggi di dalam usus mereka.
“Sinyal kopi terus muncul kembali di berbagai kelompok data,” tulis para peneliti, seperti dilansir Eco News.
Untuk mencapai kesimpulan tersebut, tim peneliti menganalisis data 22.867 individu di Amerika Serikat dan Inggris berdasarkan pola makan rinci, serta membandingkannya dengan 54.198 sampel dari kumpulan data mikrobioma publik.
Hasilnya cukup mengejutkan. Pada beberapa kelompok, jumlah bakteri Lawsonibacter asaccharolyticus ditemukan 4,5 hingga 8 kali lebih tinggi pada peminum kopi berat dibanding mereka yang tidak mengonsumsi kopi sama sekali. Tren serupa juga terlihat pada peminum kopi kategori sedang.
Bukan Hanya Soal Kafein
Salah satu temuan menarik dalam studi ini adalah bahwa fenomena tersebut tidak hanya dipicu oleh kafein. Peneliti juga meneliti kelompok yang mengonsumsi kopi tanpa kafein (decaf).
Data menunjukkan bakteri Lawsonibacter asaccharolyticus tetap tumbuh lebih tinggi pada peminum kopi decaf. Hal ini menandakan adanya senyawa lain dalam kopi yang berperan memberi “makan” mikroba tersebut.
Untuk membuktikannya, tim peneliti melakukan eksperimen laboratorium dengan menumbuhkan bakteri menggunakan tambahan ekstrak kopi dalam berbagai konsentrasi. Hasilnya, bakteri tersebut memang berkembang lebih subur saat diberi asupan kopi.
Hubungan dengan Kimia Darah
Selain meneliti sampel tinja, peneliti juga menganalisis sampel darah dari kelompok lebih kecil. Mereka mencari metabolit, yakni molekul kecil yang dihasilkan tubuh dan mikroba saat memproses makanan.
Ditemukan bahwa peminum kopi memiliki kadar senyawa terkait kopi lebih tinggi dalam darah. Salah satu yang paling menonjol adalah Asam quinat (quinic acid).
Senyawa ini terbukti berkaitan erat dengan konsumsi kopi sekaligus keberadaan bakteri Lawsonibacter asaccharolyticus.
Meski temuan ini menarik, para ahli menegaskan masyarakat tidak boleh langsung menganggap kopi sebagai obat. Penelitian ini belum membuktikan bahwa peningkatan bakteri tersebut otomatis meningkatkan kesehatan seseorang.
Namun, studi ini menjadi pintu masuk penting untuk memahami mengapa kopi kerap dikaitkan dengan manfaat kesehatan dalam berbagai penelitian sebelumnya. Besar kemungkinan, usus menjadi jembatan antara apa yang kita minum dengan bagaimana tubuh meresponsnya secara kimiawi.


