Thursday, February 12, 2026
HomeKesehatan9 Kebiasaan Ini Bisa Rusak Pendengaran, Ada yang Sering Kamu Lakukan

9 Kebiasaan Ini Bisa Rusak Pendengaran, Ada yang Sering Kamu Lakukan

spot_img

Sejumlah kebiasaan yang kerap dianggap sepele ternyata dapat berdampak serius pada kesehatan pendengaran. Berikut beberapa kebiasaan yang merusak pendengaran.

Organ pendengaran punya peran penting untuk berkomunikasi. Jika pendengaran rusak, bukan tak mungkin komunikasi jadi sedikit terhambat.

Sama seperti organ tubuh lainnya, kesehatan telinga dan pendengaran juga dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Kebiasaan yang merusak pendengaran
Paparan suara keras secara berulang, baik melalui earphone, menghadiri konser, hingga lingkungan sekitar dapat menjadi penyebab seseorang mengalami gangguan pendengaran.

Namun, berbagai studi menunjukkan, kebiasaan sehari-hari ini bisa berdampak serius pada kesehatan pendengaran, bahkan sejak usia muda.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 50 persen orang berusia 12-35 tahun berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat paparan suara keras yang berlebihan, terutama dari perangkat audio pribadi.

Merangkum dari berbagai sumber, berikut sejumlah kebiasaan buruk yang dapat merusak pendengaran.

1. Mendengarkan musik terlalu keras dengan earphone
Penggunaan earphone atau earbuds dengan volume tinggi menjadi salah satu penyumbang utama gangguan pendengaran pada anak muda.

Banyak perangkat audio pribadi mampu menghasilkan suara hingga lebih dari 100 desibel. Paparan suara di atas 70 desibel dalam waktu lama dapat merusak sel-sel rambut di telinga bagian dalam. Risiko meningkat jika volume tinggi digunakan selama berjam-jam setiap hari.

Kamu disarankan batasi penggunaan earphone. Jangan melebihi 60 persen volume maksimum selama 60 menit setiap kali menggunakan earphone.

2. Menyetel audio mobil terlalu kencang
Stereo mobil dapat menghasilkan suara hingga 100-140 desibel, terutama saat volume diputar maksimal. Ruang mobil yang tertutup membuat suara semakin terpantul dan terasa lebih keras.

Jika harus berteriak untuk berbicara dengan penumpang lain, itu pertanda volume sudah berada di level berbahaya bagi telinga.

BACA JUGA:   Berat Badan Tidak Turun Meski Sudah Olahraga? Ini 13 Penyebabnya

3. Tidak menggunakan pelindung telinga di lingkungan yang berisik
Mesin pemotong rumput, gergaji listrik, leaf blower, konser musik, klub malam, hingga alat konstruksi dapat menghasilkan suara di atas batas aman.

Tingkat kebisingannya bisa di atas 110 desibel. Pada level ini, kerusakan telinga bisa terjadi hanya dalam hitungan menit. Telinga berdenging setelah konser merupakan tanda awal stres pada sistem pendengaran.

Tanpa penggunaan pelindung telinga seperti earplug atau earmuff, paparan berulang dapat menyebabkan noise-induced hearing loss yang bersifat permanen.

4. Penggunaan earbud terus menerus
Bukan hanya soal volume suara, tetapi juga durasi dan jaraknya. Banyak earbud nirkabel terpasang jauh di dalam saluran telinga, memerangkap suara, dan membuat pendengaran terus menerus terpapar selama berjam-jam.

Dengan waktu mendengarkan yang lama dan tanpa gangguan meningkatkan kelelahan pendengaran. Kebiasaan ini mempercepat penurunan fungsi pendengaran, terutama pada usia produktif.

5. Membersihkan telinga dengan cotton bud
Cotton bud sering kali justru mendorong kotoran telinga masuk lebih dalam, berisiko menyebabkan sumbatan, infeksi, hingga luka pada gendang telinga. Secara alami, telinga memiliki mekanisme pembersihan sendiri tanpa perlu alat tambahan.
Hindari memasukkan apapun yang kecil ke dalam telinga. Sebaiknya, gunakan obat tetes telinga yang dijual bebas untuk melunakan kotoran yang ada di telinga.

6. Merokok
Zat beracun dalam rokok dapat mengganggu aliran darah ke telinga bagian dalam dan merusak saraf pendengaran. Kandungan nikotin dan karbon monoksida pada rokok membatasi aliran darah serta mengurangi peredaran oksigen ke sel-sel rambut kecil dan sensitif di telinga bagian dalam.

Merokok juga bisa mengiritasi tuba eustachius, yang berpotensi menyebabkan peradangan atau infeksi pada telinga. Perokok memiliki risiko gangguan pendengaran yang lebih tinggi dibandingkan non-perokok.

BACA JUGA:   Pagi Hari Lebih Baik Minum Teh atau Jus? Ini Manfaat dan Efek Sampingnya

7. Pola makan tidak seimbang
Kekurangan nutrisi seperti magnesium, asam folat, vitamin B12 dapat dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terhadap gangguan pendengaran terkait usia. Dehidrasi juga dapat mengubah keseimbangan cairan di telinga bagian dalam untuk sementara waktu

Terapkan pola makan yang kaya akan sayuran hijau, buah-buahan, dan kacang-kacangan. Minum air yang cukup juga mendukung aliran darah yang lebih baik secara keseluruhan, termasuk ke telinga.

8. Menunda pemeriksaan pendengaran
Gangguan pendengaran sering berkembang perlahan tanpa disadari. Menunda pemeriksaan membuat masalah telat terdeteksi.

Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi gangguan sejak dini dan mencegah dampak jangka panjang, termasuk penurunan fungsi kognitif.

Jadwalkan tes pendengaran tahunan, terutama pada usia 40 tahun atau memiliki riwayat paparan kebisingan.

9. Membiarkan infeksi telinga dan tidak diobati
Infeksi pada telinga sebaiknya tidak diabaikan. Infeksi kronis atau berulang dapat menyebabkan penumpukan cairan yang memberi tekanan pada gendang telinga dan akhirnya merusak struktur telinga tengah secara permanen.

Jika dirasa mengalami gejala seperti nyeri terus-menerus, keluarnya cairan, atau kehilangan pendengaran mendadak dan sementara, segera konsultasikan ke dokter THT.

Hindari beberapa kebiasaan buruk yang merusak pendengaran di atas agar telinga tetap sehat terjaga.

 

Sumber: cnnindonesia.com

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER