BATAMOKE.COM – Sejumlah menteri dari kabinet Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan silaturahmi ke kediaman Presiden ke-7 Joko Widodo di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, pada Jumat (11/4/2025) siang.
Kunjungan tersebut berlangsung dalam suasana lebaran yang penuh keakraban, dimulai dengan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono yang pertama kali bertemu dengan Jokowi, diikuti oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Setelah pertemuan tersebut, Trenggono berbagi cerita tentang kunjungan yang penuh kehangatan itu.
“Silaturahmi sama bekas bos saya. Sekarang masih bos saya,” ungkap Trenggono kepada awak media.
Prabowo ke Yordania, Dikawal Jet Tempur F-16 hingga Disopiri Raja Abdullah II ke Hotel
Ia menambahkan bahwa dalam pertemuan tersebut, Jokowi memberikan sejumlah arahan yang berharga, termasuk mengenai kemajuan dalam memimpin KKP.
“Jokowi memberikan banyak arahan tentang kesehatan dan hal lainnya. Saya sehat, beliau juga sehat, dan saya mendapat banyak arahan yang harus saya pelajari,” ujar Trenggono lebih lanjut.
Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan, juga memberikan pernyataan serupa.
“Silaturahmi karena Pak Jokowi kan bosnya saya. Jadi, saya sama Ibu mau silaturahmi, mohon maaf lahir dan batin. Juga, saya minta doakan supaya Pak Presiden dan Ibu itu sehat,” kata Budi dengan tulus.
Budi menambahkan bahwa ia merasa senang melihat Jokowi dalam keadaan sehat dan berharap agar mantan presiden tersebut diberikan umur panjang.
“Kalau lihat Pak Jokowi sehat kayak gini, kita senang. Apalagi kalau Pak Jokowi nanti umurnya sampai 80, 90, 100, insya Allah kita lebih senang lagi. Artinya, menteri kesehatannya berhasil,” jelas Budi.
Mardani Ali Ingatkan Pentingnya Menjaga Kewibawaan Presiden
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi), di Wedangan Omah Semar, Jalan Duku Satu, Kelurahan Jajar, Kecamatan Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah (Jateng), pada Minggu (3/11/2024).
Namun, kunjungan tersebut tidak luput dari perhatian politikus. Mardani Ali Sera, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), memberikan komentar terkait penyebutan Jokowi sebagai “bos” oleh para menteri Presiden Prabowo.
Mardani menilai, meskipun silaturahmi di momen Lebaran merupakan hal yang sah, ada pesan penting yang harus diperhatikan.
“Yang pertama tentu silaturahmi tetap baik, tapi yang kedua tidak boleh ada matahari kembar,” ujar Mardani dalam wawancara dengan media.
Mardani menekankan pentingnya menjaga kewibawaan sosok pemimpin tertinggi negara, yaitu Presiden Prabowo Subianto, dalam sistem pemerintahan.
“Bagaimanapun, presiden kita Pak Prabowo, dan Pak Prabowo sudah menunjukkan determinasinya, kapasitasnya, komitmennya. Saya pikir Pak Prabowo juga tidak tersinggung ketika ada menterinya yang ke Pak Jokowi,” tambah Mardani.
Namun, ia menegaskan agar tidak ada situasi di mana muncul kesan adanya dua pemimpin yang dianggap setara dalam pemerintahan.
“Namun, yang jadi pesan saya cuma satu, jangan ada matahari kembar. Satu matahari saja sudah berat, apalagi kalau dua,” kata Mardani menutup penjelasannya.
Kunjungan Silaturahmi Para Menteri Kabinet Prabowo
Kunjungan para menteri ke rumah Jokowi berlangsung dari tanggal 8 hingga 11 April 2025, saat Presiden Prabowo Subianto sedang menjalani kunjungan kerja ke Timur Tengah dan Turki.
Selain Trenggono dan Budi, beberapa menteri lainnya yang turut serta dalam kunjungan tersebut adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Zulkifli Hasan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji.
Pernyataan “bos” yang diucapkan oleh Trenggono dan Budi Gunadi Sadikin mengundang perhatian publik, khususnya terkait dengan hubungan politik antara pemerintahan saat ini dengan Presiden Jokowi.
Namun, kunjungan tersebut tidak hanya sekadar kunjungan biasa. Ini juga merupakan wujud dari saling menghormati dan merajut hubungan baik antara para pemimpin negara, terutama dalam suasana Lebaran yang penuh kebersamaan.
Klarifikasi Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan
Prabowo dan Jokowi bertukar kursi usai Prabowo resmi menjabat sebagai Presiden RI ke-8, di Gedung MPR, Minggu (20/10/2024).
Menanggapi isu yang berkembang terkait adanya dugaan ‘matahari kembar’, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, memberikan klarifikasi.
Ia membantah adanya niat politik di balik kunjungan tersebut dan menegaskan bahwa pertemuan ini murni untuk silaturahmi Lebaran.
“Silaturahmi-silaturahmi Lebaran jangan dibumbui tafsiran politik,” ujar Hasan dengan tegas.
Ia mengingatkan bahwa dalam suasana Lebaran, yang harus ditekankan adalah merajut kembali hubungan persaudaraan di antara sesama.
Ketua DPR sekaligus Ketua DPP PDI-P Puan Maharani juga memberikan respons terhadap isu tersebut. Puan menegaskan bahwa tidak ada yang perlu dipermasalahkan mengenai kunjungan para menteri ke kediaman Jokowi.
“Matahari kembar? Presiden saat ini adalah Presiden Prabowo Subianto,” ujar Puan.
Ia menilai kunjungan tersebut sebagai bagian dari silaturahmi yang baik, terutama dalam momen Idul Fitri.
“Silaturahmi di masa Lebaran akan sangat baik,” tambahnya.
Jazilul Fawaid: Konstitusi Tidak Memungkinkan Matahari Kembar
Menanggapi hal serupa, Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid juga menepis isu mengenai adanya ‘matahari kembar’.
Ia menegaskan bahwa dalam konstitusi Indonesia, tidak ada kemungkinan untuk adanya dua presiden sekaligus.
“Di dalam konstitusi kita tidak memungkinkan ada matahari kembar. Tidak ada itu. Yang ada presiden dan wakil presiden. Kalau itu dianggap matahari kembar, ya tidak. Karena konstitusinya itu bukan kembar, itu ada di presiden,” tuturnya.
Meskipun demikian, silaturahmi antara para menteri Kabinet Prabowo Subianto dan Presiden Joko Widodo menjadi sorotan dalam kancah politik Indonesia.
Terlepas dari itu, suasana Lebaran tetap menjadi momentum untuk mempererat hubungan antar pemimpin negara, sesuai dengan tradisi yang telah lama ada.
SUMBER: KOMPAS.com (Penulis: Fristin Intan Sulistyowati, Tria Sutrisna, Adhyasta Dirgantara | Editor: Jessi Carina, Ferril Dennys, Dani Prabowo)


