Monday, July 13, 2026
HomeInternasionalIlmuwan Jepang Ungkap Mekanisme Otak yang Membuat Seseorang Dibenci

Ilmuwan Jepang Ungkap Mekanisme Otak yang Membuat Seseorang Dibenci

spot_img

Mengapa seseorang bisa membenci atau menghindari orang lain setelah mengalami pengalaman buruk? Pertanyaan tersebut kini mulai menemukan jawaban melalui penelitian yang dilakukan tim ilmuwan dari University of Tokyo, Jepang.

Dalam studi yang dipublikasikan pada Jumat (10/7), para peneliti berhasil mengidentifikasi mekanisme saraf di dalam otak yang berperan dalam membentuk rasa benci atau keengganan terhadap individu tertentu.

Penelitian tersebut menunjukkan bagaimana otak menghubungkan emosi negatif dengan memori tentang seseorang sehingga memengaruhi perilaku di kemudian hari.

Eksperimen pada Tikus

Penelitian dilakukan menggunakan tikus sebagai hewan uji.

Pada tahap awal, tikus uji diperkenalkan dengan dua tikus lain agar terbentuk memori sosial. Selanjutnya, melalui teknik genetika, para peneliti meningkatkan tingkat agresivitas salah satu tikus sehingga berulang kali menyerang tikus uji.

Setelah mengalami serangan, tikus uji mulai menghindari tikus agresif tersebut. Menariknya, tikus uji tetap berinteraksi secara normal dengan tikus lain yang tidak bersikap agresif.

Analisis lebih lanjut menunjukkan perubahan perilaku itu dipicu oleh menguatnya koneksi antara sel memori sosial di wilayah CA1 ventral hipokampus dan sel yang memproses rasa takut di amigdala.

Hipokampus diketahui berperan penting dalam pembentukan memori, sedangkan amigdala berfungsi mengolah emosi, termasuk rasa takut dan emosi negatif.

Rasa Benci Bisa Dimanipulasi

Tim peneliti yang dipimpin Profesor Teruhiro Okuyama juga berhasil memanipulasi sirkuit saraf tersebut menggunakan teknik optogenetika, yakni metode yang memanfaatkan cahaya untuk mengendalikan aktivitas sel saraf tertentu.

Ketika koneksi antara hipokampus dan amigdala dilemahkan dengan cahaya, tikus uji berhenti menghindari tikus yang sebelumnya menyerangnya.

Sebaliknya, ketika peneliti mengaktifkan memori tentang tikus tertentu bersamaan dengan sel saraf yang memproses rasa takut, tikus uji langsung menunjukkan perilaku menghindar meski tikus tersebut tidak pernah menyerangnya.

BACA JUGA:   Panasonic Umumkan PHK 10.000 Karyawan, Ekonomi Lagi Sulit

Berkaitan dengan Gangguan Mental

Selain hipokampus dan amigdala, penelitian ini juga menemukan peran penting nukleus akumbens, yakni bagian otak yang mengatur motivasi dan pengambilan keputusan.

Menurut para peneliti, sirkuit antara hipokampus dan amigdala bertugas menghubungkan memori sosial dengan emosi negatif, sedangkan sinyal menuju nukleus akumbens memicu perilaku menghindari seseorang.

Perubahan pada wilayah otak tersebut juga diduga berkaitan dengan penolakan sosial yang lebih luas. Artinya, pengalaman buruk terhadap satu individu berpotensi berkembang menjadi trauma yang membuat seseorang enggan berinteraksi dengan lingkungan secara umum.

Meski penelitian ini masih dilakukan pada hewan dan belum membuktikan bahwa mekanisme yang sama terjadi pada manusia, para ilmuwan menilai temuan tersebut dapat membantu memahami berbagai gangguan mental, seperti gangguan kecemasan (anxiety) dan depresi, yang berkaitan dengan pemrosesan memori sosial dan emosi.

Catatan: Hasil penelitian ini berasal dari eksperimen pada tikus. Diperlukan penelitian lanjutan pada manusia untuk memastikan apakah mekanisme otak yang sama juga berlaku pada perilaku dan emosi manusia.

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER