Hari Kacang-kacangan Sedunia (World Pulse Day) diperingati pada 10 Februari setiap tahunnya.
Tahun ini, Food and Agriculture Organization (FAO) Amerika Serikat mengusung tema Hari Kacang-kacangan 2026 bertajuk “Pulses of the world: from humble to excellence”.
Tema ini menyoroti transformasi bahan protein imi. Mulai dari asal-usul yang sederhana hingga pengakuan global atas rasa, kandungan nutrisi, dan keragaman kuliner kacang.
Dikutip dari situs resmi FAO, Hari Kacang-kacangan Sedunia telah ditetapkan sejak 2019 pada sesi ketujuh puluh tiga Majelis Umum PBB, 20 Desember 2018 lalu.
Penetapan Hari Kacang-kacangan ini juga berkaitan dengan Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 oleh PBB.
“Perayaan ini menghadirkan kesempatan unik untuk meningkatkan kesadaran publik tentang kacang-kacangan dan peran fundamental yang mereka mainkan dalam transformasi ke sistem agripangan yang lebih efisien, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan untuk produksi yang lebih baik, nutrisi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik, tidak meninggalkan siapa pun,” demikian pernyataan FAO, dikutip pada Selasa (10/2/2026).
Manfaat kacang ijo
Bertepatan dengan peringatan Hari Kacang-kacangan Sedunia 2026, IPB University menyoroti manfaat kacang hijau untuk mencegah stunting.
Pakar Gizi IPB University, Prof Ali Khomsan, mengatakan bahwa kacang hijau termasuk sumber protein nabati penting.
Kandungan protein kacang hijau yang relatif tinggi dapat mendukung pemenuhan gizi, khususnya pada anak-anak dan ibu hamil.
“Kalau kita bicara tentang kacang hijau sebagai leguminosa (kacang-kacangan), itu adalah tanaman yang memang kaya protein. Kandungan proteinnya bisa berkisar 20 sampai 35 persen, sehingga relatif tinggi,” kata Dosen Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Ali, dikutip dari IPB University, Selasa (10/2/2026).
Pemanfaatan kacang hijau untuk kesehatan anak-anak dan ibu hamil dinilai relevan karena mudah diperoleh, terjangkau, dan memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi.
Ia menilai bahwa kacang hijau sebagai makanan tambahan di posyandu dapat berkontribusi pada peningkatan asupan protein anak, terutama bagi mereka yang mengalami stunting, gizi kurang, atau gizi buruk.
Meski begitu, lanjut Ali, pemberian makanan tambahan tidak bisa dilakukan secara sporadis atau hanya sesekali.
“Kalau di posyandu pemberiannya hanya satu bulan sekali, itu pasti tidak cukup. Anak-anak yang mengalami stunting atau masalah gizi harus diutamakan pendekatan pangan, diberikan makanan setiap hari, ada yang selama tiga bulan, ada yang sampai enam bulan,” jelas Ali.
Misalnya, kacang hijau dapat diolah menjadi bubur, camilan, atau penganan lain yang mudah diterima oleh anak-anak.
Dengan begitu, kacang hijau berpotensi sebagai pangan lokal yang dapat diandalkan dalam upaya perbaikan gizi anak Indonesi,sSembari mengonsumsi produk protein hewani untuk membantu penanggulangan stunting.
Ia merekomendasikan agar pemanfaatan kacang hijau diintegrasikan secara berkelanjutan dalam program pemberian makanan tambahan di posyandu dan edukasi gizi masyarakat.
Program pemberian olahan kacang hijau harus dilakukan secara rutin dan dalam jangka waktu yang cukup panjang, agar berdampak nyata terhadap perbaikan status gizi dan pencegahan stunting pada anak.
“Protein nabati daya cernanya tidak setinggi pangan hewani, sehingga harus dikombinasikan dengan pangan hewani seperti susu, telur, atau sumber hewani lainnya. Tetapi pangan lokal kacang hijau ini tetap perlu dioptimalkan,” ungkap Ali.
Sumber: kompas.com


