Monday, January 19, 2026
HomeNasionalKAPOLRI Ada Aktivitas Pembabatan Hutan Sumatera Akibatkan Banjir dan Longsor

KAPOLRI Ada Aktivitas Pembabatan Hutan Sumatera Akibatkan Banjir dan Longsor

spot_img
Polri sedang melakukan penyelidikan terkait penebangan liar di hutan Sumatera sebagai penyebab banjir dan longsor. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan berdasarkan hasil penyelidikan dari gelondongan kayu yang berserakan di lokasi bencana ditemukan ada bekas gergaji. “Jadi yang jelas dari temuan tim di lapangan ada berbagai jenis kayu kita dapati ada beberapa terdapat bekas potongan dari chainsaw (gergaji mesin), itu yang akan kita dalami,” ujar Kapolri di Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (4/12/2025). Pihaknya bersama dengan Kementerian Kehutanan dan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) bakal bersama-sama mengusut gelondongan kayu yang terbawa banjir bandang. Tim akan bergerak cepat dari hulu ke hilir dalam melakukan penyelidikan. Kapolri menyampaikan dugaan pelanggaran dari bencana banjir bandang di Sumatra Utara (Sumut), Sumatra Barat (Sumbar), dan Aceh masih akan terus didalami. Menurutnya dalam sesegera mungkin akan disampaikan perkembangannya. “Tentunya kami menyambut baik dan akan melakukan kerja sama dengan Menhut dan tim untuk membentuk satgas gabungan untuk melakukan penyelidikan terkait dengan temuan-temuan kayu, yang diduga juga ini berdampak terhadap kerusakan dan terjadinya beberapa jembatan, beberapa rumah, dan juga korban jiwa,” tuturnya. Mengenai kayu gelondongan Fenomena kayu gelondongan menjadi sorotan dalam banjir di Sumatera karena jumlahnya yang sangat besar dan terbawa arus banjir bandang. Ribuan batang kayu terlihat hayut bersama ar terlihat hanyut bersama arus banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Kayu-kayu tersebut menumpuk di sungai, pemukiman, bahkan terbawa hingga ke pantai. Masyarakat menduga fenomena ini bukan sekadar akibat banjir, melainkan indikasi kerusakan hutan dan praktik illegal logging (pembabatan hutan). Akan rehabilitasi hutan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan hutan-hutan yang gundul akan dilakukan rehabilitasi dan rekonstruksi nantinya.
BACA JUGA:   Diperiksa di Polresta Solo, Jokowi Bawa Ijazah Asli
Sejauh ini wilayah-wilayah yang terdampak bencana dan hutan gundul telah diidentifikasi menggunakan drone teknologi alat identifikasi kayu otomatis (AIKO). Sampel-sampel kayu masih diteliti hingga saat ini. Menteri Raja Juli belum mengungkapkan berapa banyak perusahaan yang diduga melakukan pelanggaran. “Ya sekali lagi (perusahan-perusahaan) belum pada tahap pemeriksaan tapi identifikasi subjek-subjek hukum yang mungkin terlibat sudah dilakukan,” ucapnya. Kerusakan alam dan korban jiwa Tak hanya mengakibatkan hutan dan alam rusak, banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar, mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Kamis, total korban meninggal mencapai 776 orang. Sementara, 564 orang masih dinyatakan hilang. Selain itu, korban luka-luka mencapai 2.600 orang. Dari 50 kabupaten/kota terdampak, kerusakan rumah warga mencapai 10.400 unit. Bencana ini juga merusak 354 fasilitas umum, 132 rumah ibadah, sembilan fasilitas kesehatan, serta 100 gedung dan perkantoran. Di sektor pendidikan, tercatat 213 fasilitas pendidikan rusak, sedangkan 295 jembatan terdampak dan sebagian besar tidak dapat dilewati.   Sumber: Tribun medan.com
BERITA TERKAIT

BERITA POPULER